ONEWS.ID.(OKI)-Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai menyalurkan bantuan sosial paket sembako tahap kedua. Bansos bagi warga miskin dan rentan miskin di OKI  akibat Covid-19 itu dilepas langsung oleh Bupati OKI, H. Iskandar, SE di Kantor Pemkab OKI. Rabu, (20/5).

"Kemarin kami mulai mendistribusikan paket sembako di 4 Kecamatan Kayuagung, Sirah Pulau Padang, Jejawi, dan Teluk Gelam" kata Kepala Dinas Sosial Kabupaten OKI dihubungi Kamis, (21/5).

Reswandi mengatakan, sekitar 73,099 kepala keluarga akan menerima bansos tahap dua ini. Dari data tersebut, pihaknya juga sudah berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak desa hingga ketingkat RT/RW.

"Kita sinkronkan data dengan pihak desa hingga RT/RW, warga yang belum tersentuh kita sisir" kata dia.

Pada penyaluran bansos tahap pertama Pemkab OKI telah  menyalurkan kepada sekitar 67,934 kepala keluarga yang membutuhkan.

"Dan sekarang datanya sudah bertambah jadi 73,099 KK, untuk mencover Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tidak tercover pada tahap pertama," ungkapnya.

Bupati OKI, H. Iskandar mengatakan, paket bansos tahap kedua merupakan bentuk kepedulian Pemkab OKI kepada warganya yang tengah kesulitan lantaran dampak Covid-19

"Dalam masa sulit seperti saat ini, paket bansos ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan," kata dia.

Setelah menerima dan menyalurkan paket bansos tersebut, Iskandar berharap warga tetap menjaga kesehatan agar tidak terkena Covid-19.

"Selalu gunakan masker dan menerapkan hidup sehat dan rutin mencuci tangan."ungkapnya.


#Peluang Emas Ilmu Komunikasi di Era Digital

ONEWS.ID, PALEMBANG - Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Selatan (USS) menggelar kuliah umum bertajuk "peluang dan tantangan ilmu komunikasi di era digital", Selasa (19/5).

Kegiatan yang digelar melalui video conference ini menghadirkan narasumber H Agus Sarimudin.S.pd.i M.ikom, kandidat Doktor UIN Raden Fatah Palembang yang dipandu secara khusus oleh Lovia Evanne, dosen Fakultas Komunikasi USS.

Dalam materi yang disampaikannya, H Agus Sarimudin menjelaskan, industri media "dipaksa", berkreasi, bila tidak, akan "tergilas oleh persaingan industri pers yang makin ketat, terlebih di era Digital, semua serba cepat dan serba terhubung.

"Begitu juga dengan lulusan Perguruan Tinggi harus benar - benar memiliki skill optimal," jelasnya.

Dihadapan puluhan mahasiswa USS, Agus memaparkan, disaat dunia terguncang, justru Ilmu Komunikasi di nilai memiliki "Peluang Emas", Ilmu Komunikasi dinilai sebagai fenomena yang banyak serba.

"Serba ada, serba luas, dan serba makin," terangnya.

Sementara salah seorang Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi USS, Andi Oktarius mengapresiasi kuliah umum yang diselenggarakan oleh kampusnya tersebut.

"Dengan adanya kuluah umum ini bisa menambah ilmu dan wawasan kami untuk terjun di masyarakat dimana Era Digital yang semangkin canggih, tapi sayang menurut Andi waktu yang diberikan sangat singkat," ujarnya.

Dia berharap akan ada kuliah umum lagi dilain waktu.

Dikesempatan yang sama,Plh Rektor Universitas Sumatra Selatan Dr. Ir. Leili Kalsum.  MT mengapresiasi terselenggaranya kuliah umum di tengah wabah covid-19 ini.

"Terima kasih kepada pembicara yg sempat hadir dan memberikan kuliah umum bagi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sumatra Selatan semoga kuliah umum ini bisa bermanfaat bagi mahasiswa /mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Sumatra Selatan," harapnya. (Ril-Red)


ONEWS.ID,(OKI)I++lockdown makin populer seiring semakin meluasnya wabah virus Corona di dunia. Kata Lockdown digunakan untuk menjelaskan suatu upaya pengendalian penyebaran infeksi. Mengacu pada penjelasan pemerintah, lockdown mengharuskan sebuah wilayah menutup akses masuk maupun keluar sepenuhnya.

Masyarakat di wilayah yang diberlakukan lockdown tidak dapat lagi keluar rumah dan berkumpul, sementara semua transportasi dan kegiatan perkantoran, sekolah, maupun ibadah akan dinonaktifkan.

Definisi lockdown sebenarnya belum disepakati secara global. Penerapan pun berbeda di setiap wilayah.

Di Tiongkok misalnya lockdown diterapkan secara total. Selama diberlakukan lockdown, seluruh warga di kota tersebut dilarang keluar rumah dan semua area publik, seperti mal dan pasar, ditutup.

Sementara di Spanyol dan Italia, kebijakan lockdown di sana masih memperbolehkan warganya pergi keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan membeli obat-obatan.

Lain lagi di Indonesia, Pemerintah mengenalkan istilah PSBB atau singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi sebagaimana dilansir dari Antara menyebutkan PSBB sejatinya berbeda dengan karantina wilayah (lockdown), di mana masyarakat tidak diperkenankan untuk beraktivitas di luar rumah namun bersifat lebih ketat daripada imbauan jaga jarak fisik (fisical distancing).

Nun Jauh sebelum istilah lockdown maupun PSBB tenar, Warga Desa Jermun Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir sejak puluhan tahun lalu telah mengenal istilah 'bekunci'

Bekunci merupakan rangkaian dari prosesi upacara adat 'sedekah ubat' yang digelar dalam rangka mencegah wabah penyakit.

Ritual sedekah ubat digelar dalam rangkaian 4 hari. Dimalam hari pertama disebut dengan Tolak Balak. Dimalam itu selepas magrib, tua, muda, bahkan anak-anak diajak berkumpul di tanah lapang untuk mengikuti ritual sedekah obat.

Sekelompok pemuda mengelilingi warga yang berkumpul itu dengan kayu memali sejenis kayu gaharu yang telah dikupas bersih.

Kayu tersebut disusun rapi mengurung warga peserta ritual sedekah obat.

Jika telah masuk waktu ritual, tidak seorang pun diperbolehkan keluar masuk dari lingkaran tersebut.
Berselang beberapa menit ketua adat desa pun keluar dengan membawa teko besar berisi air yang sudah dicampur rempah daun paya.

Di belakangnya berbaris anak-anak muda yang membawa teko dengan ukuran yang sama. Air dalam teko tersebut lalu dipercikan satu per satu kepada tiap warga.

Keesokan harinya hingga hari ketiga warga harus berpantang, yaitu dilarang pergi ke sawah ataupun ke kebun bahkan dilarang keras memegang senjata tajam.

Warga percaya, bila dilanggar akan mendatangkan mara bahaya apalagi di hari ketiga yang disebut dengan pantang perit (pantang ketat), warga dilarang melakukan aktifitas berat.

Selama 3 hari berturut-turut itu, menjelang maghrib, setiap rumah menyalakan api dengan sabut kelapa sebagai simbol mengusir setiap mara bahaya. Ritual ini dilakukan oleh Kepala Keluarga atau anak laki-laki. Malam harinya, tidak ada seorang wargapun yang berani keluar rumah.

Selain menyalakan api, kepala keluarga juga memasang bambu kuning yang diselipkan di atap plafon rumah. Bambu kuning itu melambangkan keberanian dan kesejahteraan.

Banyaknya bambu kuning yang melekat di atap rumah, menggambarkan sudah berapa kali penghuni rumah tersebut mengikuti sedekah obat.

Di hari keempat selepas berpantang, digelar sedekah dawet. Warga yang mampu membuat kolak dawet di rumah masing-masing lalu dibagikan ke warga yang kurang mampu serta jiron tetangga.

Selain dawet, Hidangan lain yang disediakan juga unik. Ada lemang yang terbuat dari tepung beras yang dimasukkan ke dalam bambu lalu dibakar di atas tungku api. Ada sagon yang terbuat dari tepung terigu dicampur kelapa dimasak dengan gula pasir.

Ada juga gulo puan, yaitu hasil permentasi susu kerbau yang jadi ciri khas kecamatan Pampangan. Hidangan yang disediakan menurut warga memiliki makna tersendiri dan jarang dimasak kecuali digelaran sedekah ubat.

Hidangan disiapkan secara bersama-sama. Warga dengan ikhlas menyisihkan rezeki sekedar membuat dan membawa sejumlah hidangan, untuk disantap bersama seusai upacara.

Tidak ada jarak yang memisahkan baik miskin, kaya, tua, dan muda. Semua larut dalam kebersamaan.
Semua kebutuhan sedekah ditanggung bersama sama bahkan dimasak dengan bersama-sama pula.

Semasa pandemi corona dan Bulan Suci Ramadhan warga Jermun memang tidak melaksanakan prosesi sedekah ubat. Mereka patuh pada himbauan fisical distancing oleh pemerintah.

Meski demikian, sejak awal pandemi mereka telah 'bekunci' tidak keluar kampung jika bukan karena urusan penting.

Untuk kebutuhan sehari-hari mereka makan dari sumber daya alam yang ada. Sayur mereka ambil dari pekarangan rumah atau kebun. Jika ingin makan ikan, mereka cukup turun ke sungai memancing atau melempar jala. Hidup sederhana yang sudah biasa mereka jalani jauh sebelum pandemi.

Kepala Desa Jermun, Abus Roni mengatakan untuk menjaga desa dari virus corona dia mendirikan pos jaga. Di pos itu warga bergantian berjaga. Setiap pendatang dicek dan diperiksa oleh bidan desa.

Sampai kini belum ada warganya yang terpapar corona ujar Abus. Hal itu karena kehidupan mereka yang sederhana dan patuh pada ajaran leluhur.

Bekunci bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri tapi saling jaga untuk sesama.(Ril)
Adi Yanto
Plt. Kepala Bidang Pelayanan Komunikasi Publik, Diskominfo